Minggu, 03 Agustus 2008

Ketika Gadis Bisu Berlipstik

Waktu mencoblos, aku pun mencoblos. Meski aku tak keluar dari lingkungan kerangkenganku di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Pakjo Palembang. Aku hanya tersenyum ketika sipir mengangkat kedua tangannya lalu menggerakkan jari kirinya ke dalam lingkaran jari kanannya. Sembari mulutnya berkata, “mencoblos?”
“Ih… hi hi,” aku tertawa sembari berlari. Saat itu aku baru keluar dari bilik suara. Mencoblos kertas bergambar empat calon pemimpin. Aku tusuk sepasang diantaranya dengan paku yang tersedia.
Gerakan itu mengingatkanku ketika aku masih bebas. Orang-orang yang ingin menikmatiku pun melakukan hal serupa. Bedanya, mereka umumnya serius sembari menarik koceknya dan mengeluarkan lembaran uang Kalau aku setuju, maka kami pun mencari tempat. Bisa di kamar hotel, atau salah satu kamar di rumah susun.
Bedanya, pertanyaan sipir tentu soal coblosan pemilihan presiden yang baru aku lakukan. Tetapi, aku rasa maksudnya juga tetap mengadung arti coblosan lainnya.
Sebagai manusia aku punya keinginan. Juga memiliki perasaan. Tetapi keinginan dan perasaanku sama-sama sulit terpenuhi. Sama seperti suaraku yang tak pernah bisa keluar. Sehingga orang pun sulit memahamiku. Aku memang bisu. Tetapi aku tidak buta dan tidak tuli.
Sejak lahir, aku telah menerima kenyataan. Bahwa ibu yang melahirkan diriku harus menanggung malu. Ayah kandung, jangankan aku, ibuku pun tak tahu dimana rimbanya. Sampai akhirnya, di usianya yang masih muda ibuku mengakhiri hidupnya secara terpaksa. Dia ditabrak mobil ketika sedang bertugas. Ibuku memang pekerjaannya di pinggir jalan. Dengan sapu di tangan, dia membersihkan jalan.
Dengan gaji yang dihitung harian dan diterima mingguan, ibuku berjuang menghidupi aku. Tetapi, dia akhirnya tak bisa terus menghidupi dirinya ketika sebuah mobil sedan menabraknya. Dan ajal pun seketika menjemput.
Aku tak tahu bagaimana nasib si penabrak. Karena memang aku ketika itu hanya bisa diam. Menangis pun aku tak bisa. Karena memang lidah ku pendek. Hanya air mata ku menetes ketika orang-orang kulihat membawa ibuku di atas kasur. Dia membisu sama seperti ku.
Bedanya, aku basah karena ngompol sejak sehari semalam ditinggal ibu kerja. Sementara ibuku kata orang basah karena dimandikan soalnya tak bisa lagi mandi sendiri.
Biasanya sih, dia akan pulang ketika matahari menjelang terbit. Lalu menyusuiku. Taklama kemudian memandikan aku. Terdengarlah nyanyian tak bersyair dari mulutnya. Bagiku, lagu yang dinyanyikan itu begitu indah. Mendayu-dayu. Entah bagi orang lain.
Buktinya, pernah suatu ketika ibu dimarahi tetangga karena mungkin kesal mendengar senandung ibu yang itu-itu juga. Sampai akhirnya, kemudian ibu mengecilkan volume lagunya sejak keributan dengan tetangga yang kemudian kuketahui seorang janda. Yang akhirnya justru dia yang merawatku menggantikan ibuku.
Tempat tinggal kami bukanlah kompleks perumahan. Tetapi ada sedikitnya 20 pondok yang tak bisa diketegorikan tempat tinggal. Masing-masing pondok, tidak ada kamar, tidak tersedia kamar mandi, tidak ada tempat tidur. Tetapi kompor ada. Panci-panci ada. Juga piring dan gelas. Semuanya sering digunakan.
Di lingkungan yang tak jauh dari Jembatan Ampera itulah aku kemudian tumbuh. Sejak dilahirkan tanpa ayah oleh ibuku. Diasuh tetangga yang kemudian sekarang pun kupanggil ibu, sejak ibuku yang kini tak kukenal lagi wajahnya dikebumikan.
Aku dipanggil Yanti. Setiap panggilan Yanti terdengar aku akan menoleh. Aku memang sempat sekolah. Karena ibu angkatku tak sanggup lagi membiayaiku, akhirnya berhenti di kelas II.
Berhentinya aku dari sekolah sangat aku syukuri. Teman-teman sering menertawaiku. Seragamku tak sama dengan lain. Katanya sih, bau lah. Buruk lah. Buku tulisku pun kumal. Karenanya, wajar saja kalau nilai-nilai ku tak ada yang bagus.

Tetapi syukur alhamdulillah, aku sedikit-sedikit bisa berhitung dan membaca serta menulis. Hanya saja, jangan aku disuruh menulis surat atau membaca koran. Tetapi kalau hanya menulis nama, aku bisa. Begitupun menghitung, aku sangat pandai.
Itulah kemudian yang menjadi modalku. Setiap tamuku kucatat namanya. Jumlah bayarannya pun aku ingat.
Tarifku memang tak begitu mahal. Itu sudah termasuk untuk bayar tempat di rumah susun. Biasanya, Ibu Cicih, demikian aku biasa panggil akan meminta bayaran dariku setiap aku mengajak lelaki ke kamar di rumahnya yang terletak di lantai III.
Atau, aku akan menerima uang dari lelaki yang membawaku. Tetapi sewa kamar short time dibayar olehnya. Berapa bayarannya terserah.
Aku tak pernah berpikir apakah perbuatan aku salah atau benar. Yang aku tahu, lelaki teman ibu keduaku yang janda lah yang mengajariku. Awalnya, aku melihat mereka berdua dalam posisi aneh di dalam gubukku tengah malam. Bukan sekali dua, aku melihatnya. Lalu mereka kudengar seperti merasakan sesuatu yang aneh. Sehingga dari mulutnya terdengar seperti orang makan nasi dengan sambal.
Aku merasakan sesuatu yang aneh juga ketika itu. Sampai akhirnya, ketika ibuku itu pergi entah kemana, aku tinggal bersama lelaki yang kemudian aku panggil Udin. Kalau dulu aku melihat Udin dan Ibuku, kini aku merasakan sendiri apa yang mereka rasakan. Sebelum ibuku pergi, aku sempat dua lima kali selama lima bulan mengalami peristiwa yang membingungkan. Setiap bulan, dari tempat aku buang air kecil keluar darah. Sama seperti ketika aku terluka saat aku berlari dikejar kucing. Bedanya, kalau dulu dari dengkul kini dari tempat di atas dengkul.
Tanpa penjelasan, ibuku memberiku kain bekas yang bersih untuk diletakkan di dalam celana dalamku. Pesannya, “Kau sudah gadis. Jaga jangan sampai darah itu tercecer dimana-mana,” ujarnya.
Aku sungguh tak mengerti ketika Udin mendekati aku yang sedang mau tidur. Tetapi aku bisa mengerti bahwa aku mesti menolak perlakuan itu. Aku berontak. Tetapi aku tak bisa menjerit. Karenanya, malam itu aku pun menjadi wanita seutuhnya. Tetapi tak utuh lagi.
Berkali-kali aku melakoni itu Udin pun sangat baik dengan ku. Aku dibelikan bedak. Abang bibir (lipstik). Baju baru. Sendal baru. Aku pun bisa berpenampilan seperti gadis lainnya. Lalu setiap senja datang aku diajak Udin berdiri di pinggir jalan dekat Kambang Iwak.
Udin memang selalu mengawasiku. Tetapi dia tak bisa menghalangiku untuk dekat dengan seorang lelaki yang menurutku ganteng. Dia baik pula. Selalu tersenyum denganku. Dengan Andi, itulah namanya, aku kemudian merasa sangat dekat. Terlebih ketika Udin kudengar ditangkap polisi. Dia katanya sih ditembak karena ternyata dia itulah yang menghabisi ibu.
Menurut orang, ibuku ditemukan sudah menjadi mayat. Dan akhirnya diketahui pembunuhnya adalah Udin. Aku kemudian diajak Andi.
Andi memang baik. Umurnya juga tidak setua Udin. Aku tak tahu rumahnya Tetapi, dia sering main ke gubukku. Bahkan terkadang tidur di gubukku.
Awal-awal hubunganku dengan Andi beberapa kali aku ditangkap orang berseragam. Dinaikkan ke mobil. Begitu juga dengan rekan-rekan wanita ku yang lainnya. Mulanya aku sempat lepas. Melihat teman-teman pada berlari, aku ikut berlari.
Tetapi kemudian, aku tak bisa menghindar. Meskipun sudah berlari, aku tetap bisa ditangkap. Penangkapan pertama, Andi kulihat selalu ada di sekitarku. Aku dihadapkan kepada seorang ibu yangmengenakan baju hitam. Lalu ibu itu, yang beberapa bulan kemudian kuketahui sebutannya adalah hakim, mengetukkan palu. Kulihat, kemudian Andi membayar. Aku lalu dilepas.
Yang kedua, saat aku sedang hamil tua, aku kembali tertangkap. Aku dibawa ke sebuah gedung. Kali ini bukan ibu-ibu yang mengetukkan palu, tetapi seorang laki-laki yang juga mengenakan baju hitam. Saat itu, Andi tak ada. Aku juga tak mengantongi uang.
Ketika aku ditanya bisa tidak membayar Rp 50.000, karena menurut mereka aku sudah dua kali tertangkap, aku menggelengkan kepala. Akupun digiring ke sebuah bangunan berkerangkeng. Aku tak bisa kemana-mana. Tapi setiap hari aku dapat makan. Setelah tiga hari di sana aku baru tahu kalau aku dipenjara.
Saat itu, perutku mules. Terasa sakit diperutku yang memang membuncit. Sampai akhirnya aku tak sadar. Ketika aku sadar aku sudah terguling di kasur. Perutku sudah kempis. Ketika aku bingung, kulihat seorang wanita berpakaian putih memberikan kode bahwa isi perutku sudah keluar. Dia menunjuk gambar di dinding seorang ibu menggendong bayi. Tetapi, bayiku katanya meninggal.
Sebulan aku dipenjara, aku kemudian pulang. Aku dijemput Andi. Dia memelukku. Aku kembali ke rumah. Lebih sering aku tak makan. Karena aku tak bisa mencari uang. Beruntung, Andi sering datang. Aku masih bisa menyambung hidup. Kuhitung-hitung hampir dua bulan aku nganggur.
Sampai akhirnya aku kembali ke jalan. Rutin, kemudian aku dapat lelaki. Terkadang empat sampai lima. Yang paling ramai kalau malam minggu.
Berkali-kali pula aku terkena razia. Dengan yang lainnya, aku didenda lebih besar. Katanya sih karena aku sudah sering ditangkap. Itu tak soal, karena aku punya uang.
Terakhir, ketika Andi juga menghilang. Yang menurut temanku ditangkap polisi karena mencopet di pasar, aku kembali terkena razia. Aku hanya bisa menangis, ketika ibu yang mengenakan baju hakim mengetukkan palu dan menyebut angka 1 juta rupiah.
Aku hanya sanggup menggeleng ketika seorang petugas yang bisa berkomunikasi denganku menanyakan apakah aku anggup membayar 1 juta rupiah Hakim sudah pergi ketika petugas menggiringku masuk penjara karena itulah pilihan yang ada.

Palembang, Oktober 2005

(Dimuat di Sumatera Ekspres, edisi Minggu, 19 November 2006)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Ini mah temannya si bisu dari Goa Hantu. Tapi yang ini bisu dari kambang iwak hehehehe