Minggu, 03 Agustus 2008

Di Ujung Hari

Berat senjata dengan ransel di punggung memang tak pernah dirasakan Nurdin. Tetapi menembakkan senjata atau melemparkan geranat hasil sitaan dari Belanda pernah dilakoninya dulu. Dia sangat bangga kalau berhasil menewaskan tentara musuh. Entah itu Belanda maupun Jepang.
Masih terngiang di telinga Nurdin yang kini ditambah alat bantu dengar karena fungsinya sudah berkurang, dia begitu disambut saat masuk kampung. Seragamnya memang tidak berpangkat. Tidak ada papan nama di dadanya. Hanya ada bendera merah putih, itupun warnanya sudah pudar. Hanya merahnya yang semakin merah. Mungkin terkena percikan darah musuh.
Suasana tempat tinggal Nurdin kini, memang tenang. Hanya sesekali terdengar bunyi radio. Itu pun sayup-sayup, dari kantor yang terletak di bagian depan. Sementara Nurdin menempati bagian belakang, terdiri dari kamar-kamar. Ada kursi malasnya.
Selama ini, tak pernah ada kenangan masa lalu. Yang ada, hanyalah suara-suara yang masuk ke telinga Nurdin terdengar antara ada dan tiada. Terlebih kalau alat berwarna putih yang diselipkan ke lubang telinganya terkadang terlepas kala dia tiba-tiba tertidur di kursi malas.
Atau, kalau alat itu habis baterenya, maka Nurdin tak bisa mendengar apa-apa. Termasuk nyamuk yang terbang di sekitar kupingnya. Dia hanya bisa melihat, bagaimana teman sekamarnya juga sedang tertidur.
Kulitnya keriput. Kalau berjalan memakai tongkat. Ketika tertawa, giginya ternyata ibarat bayi. Tinggal gusinya saja. Sama seperti Nurdin, teman satu kamarnya itu punya menu istimewa, bubur nasi. Dengan kecap asin, plus telor setengah matang.
Dari sepuluh kamar tempat Nurdin tinggal sekarang, penghuninya kondisinya sama. Nurdin memang tinggal di panti wreda. Tak banyak yang bisa dibuatnya.
Juga teman-teman wanitanya yang kamarnya berada di ujung sebelah kiri. Mereka biasanya hanya duduk sembari merenda. Namun pekerjaan itu tak selesai-selesai.
Ada lagi sebagian, cuma duduk-duduk. Sembari menonton televisi di ruang tengah. Menuju ke ruang tengah, ada yang naik kursi roda. Tetapi, ada juga yang merangkak.
Mereka tertawa-tawa melihat anggota DPR sidang. Menangis saat ada iklan susu bayi. Kontras sekali dengan kondisi yang sebenarnya. Karena memang mereka sudah sulit mengartikan apa yang dilihat dan didengar.
Di kalangan orang-orang tua, Nurdin merasa paling jagoan. Dia selalu ingin memimpin. Tak boleh ada yang mendahului saat makan.
Nurdin tetap merasa dia adalah komandan di lapangan. Yang selalu memberi komando. Perintahnya, selalu dikumandangkan. Entah ada atau tidak yang melaksanakan. Karena dia sendiri tak bisa mengontrolnya lagi.
Berbeda dengan ketika dia masih muda dulu. Dengan dada bidang, kulit hitam terbakar matahari, Nurdin memang jantan. Pandangannya tajam. Kakinya kuat berjalan berkilo-kilo, menembus hutan, naik gunung, mnenyeberangi sungai.
Hidungnya tajam mencium bau musuh. Karenanya, dia selalu memang dalam pertempuran.
Sayang, Nurdin tak sempat menikah. Karena ketika Indonesia sudah merdeka, justru dirinya tak menemukan lagi keluarga. Pendengarannya yang rusak karena ledakan granat di dekatnya membuatnya tak bisa berkomunikasi dengan sempurna.
Sampai tua pun, Nurdin tak mempunyai pendamping. Kalaupun ada, bekas anak buahnya yang juga mendaftarkan dirinya sebagai anggota veteran.
Pagi ini, ketika batere alat pendengarnya baru diganti, dia mendengar pengumuman diadakan perlombaan tarik tambang memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus.
Sontak, dia mengembangkan dada. Terlebih ketika terdengar lagu-lagu perjuangan. Mulailah Nurdin menghitung-hitung musuh yang dibunuhnya. Juga teman-temannya yang menjadi korban. Dia mau ikut tarik tambang.
Di lapangan bola tak jauh dari panti, memang ada gelaran memperingati hari kemerdekaan RI. Panitia setempat menggelar acara dengan engajukan propsal ke berbagai pihak. Ditambah bantuan sponsor, teriakan peserta yang menjadi pemenang sampai ke telingan Nurdin.
Bukan hanya lari karung. Ada lomba makan kerupuk, panjat pinang, main gaple yang cukup ramai pesertanya.
Bantuan yang didapat, lumayan besar. Tetapi, hadiah yang dibagikan tak seberapa. Itu yang membuat bisik-bisik warga. Bahkan, ada yang nyaris berkelahi. ”Kamu jangan bicara seperti itu. Jangan bicara di belakang, kemaren waktu rapat, tak ada protes,” ujar Roni, anak Ketua RT yang menjadi ketua panitia menuding rekannya yang sebelumnya ikut sibuk mengantarkan proposal.
Teriakan-teriakan panitia mempertengkarkan bantuan untuk perayaan hari kemerdekaa kemudian reda. Itu tak terdengar oleh Nurdin. Dia hanya ingin ikut meramaikan. Apalagi, di depan panti dia melihat anak-anak berlompatan membawa hadiah kemenangannya.
“Saya pahlawan. Apa pahlawan tidak boleh ikut lomba tarik tambang? Saya mau ikut. Allah akbar,” teriaknya.
Nurdin berlari. Napasnya terengah-engah. Di belakangnya, dilihatnya pasukan musuh terus memburunya. Di depan, ada sungai membentang. Airnya deras. Ketika dia membalik, senjatanya tak berpeluru. Hanya ada geranat di pinggang. Dicabutnya geranat, lalu ditariknya picu. Sayang, geranat itu meledak di tangan. Nurdin sempat tersentak. Dia sadar itu adalah bayangan.
Dia kembali berteriak, “Allah akbar.”
Sayang, teriakannya sangkut di tenggorokan. Tak ada suara yang keluar. Nurdin hanya terhenyak. Seorang perawat mendekat. Diusapnya dada sang pahlawan dengan lembut. Tak biasanya, kali ini tak ada denyut nadi. Pas 17 Agustus 2004, Nurdin menghembuskan napas. Dia sudah menghitung jasa-jasanya. Tuhan juga pasti.

Palembang, 17 Agustus 2006
(Dimuat di Tabloid Desa Edisi 91/1-15 Juli 2008)

Tidak ada komentar: