Selasa, 20 Oktober 2009

Cinta Tak Berbumbu

Cinta Tak Berbumbu


Ruang kuliah yang dipadati puluhan mahasiswa itu terlihat tenang. Hanya sekitar lima orang dari 35 mahasiswa di ruang itu yang bercengkerama dalam bahasa lisan yang sesekali ditimpali komunikasi nonverbal. Selebihnya, sibuk memindahkan catatan rekannya yang memang memiliki tulisan rapi di papan tulis.

Sebuah buku ilmiah sedang dipindahkan ke papan tulis. Lalu mahasiswa dengan semangat memindahkannya ke buku mereka masing-masing. Sementara sang dosen terlihat sibuk mengutak-atik Iphone-nya. Bersilancar di dunia maya. Tampaknya mencari kutipan dari Google search engine.

Sesekali dia membalas sms melalui HP lainnya. Selintas, penampilan sang dosen memang cukup trendy. Dengan tas kulit keluaran terbaru, dia memadankannya dengan stelan yang dibelinya dari butik. Memang dalam sebulan, setidaknya dia dua kali mengunjungi butik membelanjakan uang honornya dari beberapa universitas ternama di Palembang.

Ditambah pula, terkadang uang dari hasil menjual buku terbitan teman-temannya waktu kuliah dulu.

Tak pernah ada protes dari para mahasiswanya. Mereka justru sepertinya menyenangi. Karena terkadang, kalaupun ada dosen yang mengajar dengan banyak lisan, sering obrolannya pun memang membosankan. Karena hanya menceritakannya pengalaman pribadinya. Cerita yang itu-itu saja.

Sebagai dosen bergelar doktor, di kalangan koleganya ibu yang tak berjilbab itu dikenal masih cukup muda. Karenanya, dia dipanggil ibu dosen muda. Meskipun, di bidang pengalamanan berkeluarga, dia ternyata masih sangat minim.

Karena di banding teman-temanya yang umumnya sudah punya pacar, dia memang tidak ada seujung jarinya. Apalagi dibanding dengan mereka yang sudah bersuami, atau sudah punya momongan. Dia memang bahkan belum punya pacar. Dulu memang pernah punya pacar. Tetapi karena dia sibuk melanjutkan pendidikan, sang pacar pun berpaling ke wanita lain.


Mereka sempat beradu argumen. Dengan sistematis dan logis dia menceramahi sang pacarnya yang selisih usianya cukup jauh, sekitar lima tahun dibawahnya. Ketika itu mereka sembari menikmati pempek lenggang* di depan Mesjid Agung.

Di tempat ramai, lelaki itu hanya manggut-manggut. Hanya sesekali dia menyeka bibirnya yang dirasa menebal didera cuka yang dihirupnya menemani lenggang. Penawarnya, diapun menceruput es jeruk yang dipesannya. Tak ada lagi, segelas berdua. Apalagi, mereka berdua memesan es berbeda. Yang satu es jeruk, satunya lagi es belimbing. Telinganya pun seperti ikut menebal.

Merasa bersalah, lelaki itu tak berani membantah. Jangankan mengeluarkan kata-kata, mengangkat kepalanya pun tak mampu. Selain itu, memang wanita idaman lainnya, ternyata jauh lebih segar, lincah dan sama-sama masih berjiwa muda.

Karenanya, kala gembira dan bersenang seperti di bioskop Ordeon di 7 Ulu atau Rosida
di Jalan Temon lelaki ini selalu bersama pacarnya yang jauh lebih muda tadi. Begitupun ketika beramai-ramai bersama teman-temannya menghabiskan waktu di pasir putih yang tak berpantai di Km 14.

”Kalau saja kamu tidak seperti ini, aku mungkin rela meninggalkannya. Emang aku ini adikmu, diceramahi seperti ini,” dalam hati saja lelaki yang sesungguhnya memang masih ingin bersenang-senang itu menggerutu. Tanpa kata, dia menghilang. Tak ada komunikasi lagi. Perang besar hanya terjadi sekali dan semuanya hancur. Tak seperti perang konvensional yang biasanya masih diwarnai gerilya.

Sejak itu, dia menjadi dingin terhadap laki-laki. Kecuali kepada ayahnya yang kini sudah sendirian ditinggal ibunya. Kesibukannya bertambah, kalau di rumah dia dengan telaten mengurusi ayahnya. Apalagi, di antara lima bersaudarana, hanya dia yang kini menempati rumah keluarga di kawasan elite.

Dia memang punya prinsip tak mau menitipkan ayahnya ke panti jompo. Baginya, pensiunan PNS itu memang telah memberikan modal bagi masa depannya. Karenanya, di usianya yang telah renta itu dia tak mau menyia-nyiakanya. Bahkan dia merasa harus membalas kebaikannya. Sementara untuk ibunya yang almarhumah, dia selalu mengiriminya doa usai salat lima waktunya.

Ibu Rum, demikian dia dipanggil, memang sangat perhatian kepada orang tuanya. Lelaki itu baginya ibarat matahari. Dari pagi hingga senja telah memberikan cahayanya. Dan menjelang malam, dia harus menjaganya.

Cukup sulit baginya memang untuk bersibuk ria kini. Apalagi, selama dua tahun terakhir, dia pun telah berutang kembali ketika dia menyelesaikan studinya di kota lain. Beruntung ada keponakannya yang juga dapat dipercaya menjaga ayahnya tiu. Tetapi, di sela-sela studinya, dalam sebulan setidaknya dua kali dia pun menyempatkan untuk mengontrol orang tuanya itu.

Sehingga, memang sangat minim waktu 24 jam dalam sehari semalam untuk kepentingan masa mudanya. Karenanya wajar dia pun tak sempat mencicipi hubungan khusus dengan lelaki dengan serius.

Kalaupun ada, para lelaki itupun sepertinya satu per satu mengundurkan diri melihat kesibukannya. Selama ini, memang ada juga yang mengenal pribadinya lalu berusaha lebih mengenal.

Di usia berkepala empat, kini dia termasuk langka. Doktor di usianya yang belum mendapat jodoh, tentunya bisa dihitung dengan jari.
Apapun yang terjadi, paling tidak dia sudah mengabdikan dirinya bagi profesi dan dunia keilmuan. Juga, bagi orangtuanya. Bagi dirinya sendiri, memang sepertinya belum ada kesempatan untuk itu.

Meski demikian, soal menjaga penampilan, para mahasiswa sering mendapatinya merawat diri di salon-salon kecantikan. Juga berbelanja di butik-butik ternama. Jarum jam selalu berputar ke kanan. Waktu terus bertambah, usia terus berkurang. Ilmu terus berkembang. Sampai kapan harus hidup sendirian, suatu ketika jarus jam akan terhenti ketika jantung berdegup kencang saat mata bertatapan. Namun entah kapan.

Palembang, April 2009




Muhamad Nasir

Jalan Lomba Jaya Gang Jaya, Sekip Palembang.
081368184211


* makanan khas Palembang yang terbuat dari tepung terigu dan ikan yang dipanggang dengan telur bebek dibungkus daun pisang.

Tidak ada komentar: